Langsung ke konten utama

Filologi : Perjalanan Suci Ke Utara Mencari "Kitab Suci"

gambar 1.1 saya mencoba membaca dan menerjemahkan lontar.

Oleh I Putu Lanang Wijidyatmika

Dahulu, saat saya duduk di bangku seekolah dasar, saya sering menonton film yang bertajuk "Sun Go Kong". Film Cina yang mengisahkan tentang perjalanan suci yang dilakukan oleh empat pengelana, tiga orang pendekar siluman dan seorang Bikshu. Dikisahkan bahwa perjalanan yang dilakukan oleh mereka adalah untuk mencari kitab suci demi perdamaian dunia. Dalam narasinya, sang narator menceritakan bahwa mereka melakukan perjalanan ke barat, yang kemudian hari dikenal dengan sebutan "Perjalanan Suci Ke Barat". Berbagai rintangan mereka temui dan hadapi, hingga tiba masanya misi mereka dapat digagalkan oleh kelompok siluman yang tidak ingin adanya perdamaian di dunia. Sangat disayangkan, saya hanya menonton sampai pada bagian itu saja, entah apa alasan mengapa salah satu stasiun televisi swasta tidak menayangkannya kembali. Namun, konon mereka berhasil menyelesaikan misi itu dan dunia berakhir dengan damai hingga saat ini. 

Saya tidak sedang mengulas atau meresensi suatu film, tetapi ada keterkaitan antara aksi yang dilakukan oleh para tokoh di film itu dengan aksi yang saya lakukan malam ini, sehingga menghasilkan sebuah artikel yang berjudul "Filologi : Perjalanan Suci Ke Utara Mencari 'Kitab Suci'". Alasan mengapa saya memilih judul ini sebab saya terinspirasi dengan film itu. Perbedaan yang tampak dari judul artikel ini adalah di "arah"-nya dan kata filologi. Ihwal mengapa saya memilih menempatkan kata filologi di dalam judul ini sebab filologi merupakan salah satu mata kuliah wajib bagi mahasiswa yang memilih program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Di samping itu, filologi adalah salah satu ilmu bahasa yang mengkaji varian-varian manuskrip. 

Selain itu, perbedaan "arah" yang saya maksud adalah ke mana tujuan perjalan itu. Kalau dalam film "Sun Go Kong" melakukan perjalanan ke barat, saya melakukan perjalanan ke utara- sebab itu adalah rumah Nenek saya sekaligus yang menyimpan "kitab suci", milik Kakek saya, tepatnya berada di Desa Batu Dawa, Tanjung Karang. Frasa "Kitab suci" sebenarnya tidak memiliki makna denotasi, tetapi makna konotasi. Frasa itu hanya makna kias dengan maksud untuk mengatakan "sama" terhadap aksi yang saya lakukan dengan aksi yang dilakukan oleh para tokoh di film itu. Frasa itu juga merujuk pada naskah kuno atau lontar. 

Sesuai dengan tajuk saat ini, maka saya hanya akan menjelaskan bagaimana perjalanan saya ketika mencari lontar,  baik itu rintangan maupun keberhasilannya. Oleh karena itu, penjabaran mengenai kisah perjalanan saya, sebagai berikut. 

Kala itu, langit telah berselimut malam. Suara lolongan anjing yang saling sahut memecah kesunyian. Gang-gang di dekat rumah saya bagaikan lorong rumah sakit yang terbengkalai dan terkenal angker-konon di filim diceritakan demikian- dengan tanpa sudih satupun yang bergelayut, saling kait antara tiang-tiang yang berdiri tegak dan membisu. Saya berjalan sendiri menyusuri kesunyian malam. Kalau tugas ini tidak dikumpulkan besok, saya lebih memilih untuk merebahkan diri. Membiarkan gumpalan spons, kayu, dan besi-besi yang berbentuk spiral menopang tubuh saya. Siapa yang tidak mau?

Akan tetapi, saya mencoba menepis anggapan itu dan terus berjalan hingga akhirnya tiba di tempat tujuan. Merasa bersyukur saya masih bisa sampai dengan selamat, sebab konon telat di depan rumah Nenek saya bermukim seorang laki-laki kurus -yang kata orang, syukur ada kulit, kalau tidak mungkin tinggal tulang- yang sangat suka mabuk. Sering mengamuk hingga kadang mengganggu kantuk. Berteriak dan mengacungkan senjata, meresahkan warga. Saya pernah melihat. Lantas, bagaimana jadinya kalau saya harus berhadapan langsung dengannya dan dengan keadaan dia sedang mabuk? Bagi saya, berbadan gemuk tak menjamin mampu mengalahkan pemabuk. Jiwa dan raga saya bergetar kalau ia mengacungkan senjata.

Tidak hanya itu, setiba saya di lokasi, seperti biasa, keluarga akan menyambut, namun mungkin saat itu ada pertanyaan aneh yang tersirat dari raut muka mereka. Sebab saya datang malam hari, tanpa mengendarai motor, juga menggunakan kemen(kereng dalam bahasa Sasak atau sarung dalam bahasa Indonesia). Entalah, kala itu saya tidak sempat bertanya isi hati mereka dan semoga saja itu tidak menjadi pertanyaan beranak bagaikan pertanyaan UTS. Setelah saya memilih mengabaikan mereka dan lebih memilih untuk fokus mencari lontar, saya bergegas pergi. Membawa sepasang canang atau rampe dalam bahasa Sasak dan lima biji dupa. Tidak ada ketentuan untuk berapa jumlah yang harus disediakan, saya hanya meminta sepasang canang dan diberikan lima biji dupa. 

Syarat atau ketentuan yang harus saya lakukan sebelum mencari atau membuka lontar adalah bersembahyang, menghadap kepadaNya. Setelah itu, barulah ritual selanjutnya dilakukan, yaitu menurunkan lontar dari tempatnya-kebetulan di atas. 

gambar 1.2 saya mencoba menurunkan lontar sebelum dibaca.

Awalnya, dalam foto di atas, saya mencoba dengan keras agar tetap terlihat seksi, ramping, dan anggun. Akan tetapi, bagaimanapun usaha yang saya lakukan, tetap saja badan saya hampir memenuhi setengah gambar. 

Sebelum melakukan persembahyangan dan penurunan lontar, saya sempat bertandang ke rumah Pemangku (orang suci) keluarga, yang kebetulan merupakan Wak saya sendiri (Wak merupakan sapaan untuk kakak dari ayah atau ibu). Siapa saya, yang hanya seorang anak kecil toaq jae, dengan bermodalkan "tekad" berani untuk membuka warisan leluhur yang disakralkan tanpa meminta izin dari pengampu. Oleh karena itu, meminta izin bagi saya adalah hal yang penting. 

Singkat cerita, semua syarat telah dilakukan dan kini tinggal saatnya saya untuk membuka lembaran lontar satu per satu. Perlu saya sampaikan bahwa membuka lembaran lontar tidak sama seperti membuka lembaran baru, sebab lembar demi lembar daun lontar telah usang, menempel, dan rapuh. 

gambar 1.3 saya mencoba untuk membuka pengikat dan penutup lontar.

Saya berusaha membuka secara perlahan kain hitam berdebu yang menutupi ujung hingga sebagian dari panjang lontar itu. Disaksikan oleh beberapa orang keluarga saya, yang sebelumnya belum pernah melihat lontar ini. Beragam ukuran lontar-lontar ini, saya perkirakan ukuran terpendek berkisar 30 cm dan terpanjang berukuran 50-60 cm. Selain ukurannya yang beragam, substansi dari tiap-tiap lontar juga beragam. Seperti konon usadha atau ilmu pengobatan, sejarah invasi Kerajaan Karangasem, dll. Namun, saat ini saya belum tahu secara pasti apa saja isi dari lontar-lontar ini, sebab belum ada yang mampu menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia ataupun bahasa daerah, termasuk saya sendiri. 

Setelah saya membuka dan mencoba membaca beberapa takep lontar (satu takep lontar biasanya terdiri dari beberapa pupuh atau teks), akhirnya saya menemukan satu takepan lontar yang menurut saya bagus, sebab sepertinya saya pernah membaca sebelumnya dalam versi bahasa Indonesia. Takepan itu mengisahkan mengenai perjalanan suci seorang kaum Brahmana dari Bali ke Pulau Lombok, tepatnya menuju ke Pura Gunung Pengsong, sebelum melakukan invasi ke Kerajaan Selaparang. 
gambar 1. 4 saya mencoba membaca dan menerjemahkan lontar

Ketika membaca tiap-tiap huruf aksara Bali yang terukir di atas daun lontar ini, saya semakin berpikir keras dan mengatakan dalam hati bahwa selama ini pengetahuan yang saya miliki ternyata belum ada apa-apanya, hanya setitik air di dalam lautan lepas. Saya menyadari bahwa maksud dari perjalanan suci untuk mencari kitab suci demi perdamaian dunia itu adalah kita sebagai manusia, khususnya saya harus melakukan "perjalanan" dalam kehidupan ini melalui pendidikan dan ilmu pengetahuan yang baik dan benar, untuk menjadi sebuah bekal hidup yang berkah, dan dapat mengubah hidup (diri) kita, hidup manusia menjadi lebih damai. Sebab "Belajarlah dengan sujud disiplin, dengan bertanya dan dengan kerja berbhakti, guru budiman yang memiliki kebenaran akan mengajarkan padamu ilmu budi pakerthi" (Bhagawad Gita. IV. 34) dan "Persembahan berupa ilmu pengetahuan, oh, Arjuna adalah lebih mulia daripada persembahan materi. Dalam seluruh kerja ini berpangkal pada ilmu pengetahuan,” (Bhagavad Gita, IV.33).

Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Wahhhh..bagus..Ditunggu cerita selanjutnya Putu Lanang๐Ÿค—

    BalasHapus
  3. Perjalanan dari meninton film yang sangat luar biasa sampai perjalanan yang tak terduga di jalan.. luar biasa..๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…

    BalasHapus
  4. Bagus nang ,Semoga bisa di kembangkan

    BalasHapus
  5. Luar biasa Nang, kembangkan๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    BalasHapus
  6. Waaaahhhhhhhh..... Bagus sekali Lanang.

    BalasHapus
  7. Badan anda tetap saja memenuhi frame๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ bagus! Semangat berkarya!

    BalasHapus
  8. Bagus! Meskipun belum saya baca.

    BalasHapus
  9. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  10. Kata2 nya bagus bahasa sastrawan bngt๐Ÿ˜‚

    BalasHapus
  11. Ditunggu kisalh perjalannya ke barat, timur, dan selatan ya.

    BalasHapus
  12. Bagus.
    Ceritanya menarik mengingatkan kembali dengan film sun go kong.

    BalasHapus
  13. Waah kapan-kapan ajak saya ke utara yaa๐Ÿ˜

    BalasHapus
  14. Mantulll,,,ditunggu postingan2 selanjutnya

    BalasHapus
  15. Bagus sekali, sangat rinci dan informatif ๐Ÿ‘๐Ÿคญ

    BalasHapus
  16. Keren sekali tulisannya bagai permen nano-nano, membuat saya ikut merasakan sensasi perjalanan ke utara ๐Ÿ˜‚

    BalasHapus

Posting Komentar