Mahasiswa "Bernostalgia"
Oleh I Putu Lanang Wijidyatmika
Dua
puluh satu tahun silam, rakyat yang berselimut almamater se-Indonesia mencetak
rekor dalam sejarah perpolitikan di tanah air, pasca kemerdekaan. Sejarah nepotisme
terkoyak di ibu Pertiwi. Mengubah rezim tirani
Orba menjadi Demokrasi melalui Reformasi 1998.
Penulis ingin mengucapkan
terimakasih kepada para pejuang reformasi, walaupun ini
terkesan terlambat, tetapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, bukan? Artikel ini sengaja dibuka dengan puisi sebagai pembelajaran mengenai peristiwa Reformasi, dua puluh satu tahun
silam. Sebagai kata pengantar tambahan,
alasan penulis
memilih “Mahasiswa ‘Bernostalgia’" sebagai judul artikel ini karena (a) frasa ini dinyatakan secara langsung oleh
Kepala
Staf Kepresidenan RI ketika menjawab mengenai peristiwa
aksi mahasiswa dan (b)
menurut penulis, frasa ini bersifat unik dan mampu memayungi peristiwa saat ini. Dalam hal ini, yang ingin penulis ungkap adalah makna apa yang tersirat dari kata bernostalgia
dalam frasa
mahasiswa bernostalgia pada judul
artikel ini.
Sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, penulis tentu melihat hal ini seperti “berlian” dalam kubangan
lumpur. Dengan maksud juga untuk melatih penulis dalam menulis kalimat wacana
yang koheren dan kohesi, itulah mengapa artikel ini dibuat. Berdasarkan permasalahan di atas, memang sejak awal penulisan artikel ini, penulis ingin tahu apa makna yang tersirat dari frasa tersebut. Dengan menggunakan analisis kebahasaan, barang kali dalam
artikel ini akan banyak menggunakan istilah-istilah akademis, tetapi
penulis akan berusaha
menjelaskan istilah-istilah tersebut. Artikel ini tidak hanya ditujukan untuk akademisi, tetapi
ditujukan juga untuk masyarakat awam sebagai pengetahuan tambahan.
Sejak berita RUU terkait diterbitkan oleh media berita hingga saat ini timbul polemik,
baik itu dari pihak pro terhadap RUU terkait maupun dari pihak yang kontra terhadap RUU ini.
Polemik itu secara tidak langsung memunculkan aksi demo yang dilakukan oleh mahasiswa dan
masyarakat. Ini
mungkin
alasan
mengapa
pihak
ketiga
mempertemukan
pihak-pihak
yang terkait. Seperti halnya pihak pro dan kontra yang dipertemukan malam ini di acara Mata Najwa
di salah satu stasiun televisi swasta, walaupun belum dapat meredam beberapa titik aksi yang
masih dilakukan oleh mahasiswa
dan rakyat. Hingga di
salah satu
segmen acara berita yang dipandu oleh Najwa Shihab tersebut, Rabu malam tadi, penulis menangkap
frasa
tersebut yang diucapkan secara
langsung (lihat pembahasan sebelumnya!). Oleh
karena
itu, penulis akan menganalisis makna yang tersirat dari kata gramatikal pada frase tersebut, sebagai
berikut. Tetapi, sebelum memasuki pembahasan, penulis akan memberikan
pengertian mengenai
frasa. Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang bersifat nonpredikatif, seperti gunung
tinggi, meja hijau, dll.
Analisis Makna Frasa “Mahasiswa ‘Bernostalgia’”
Analisis yang dilakukan untuk menentukan makna apa yang tersirat dalam sebuah ujaran langsung tidak dapat dilakukan secara terpisah, sebab makna yang tersirat akan sesuai dengan
konteks ujaran, siapa, di mana, dan kapan atau dalam situasi apa ujaran itu disampaikan. Dengan demikian, analisis yang penulis
lakukan akan berdasarkan empat aspek tersebut.
Pada frasa mahasiswa
bernostalgia
dapat menjadi kalimat aktif intransitif atau kalimat
aktif yang tidak memerlukan objek, apabila (a) frasa tersebut mendapatkan sisipan kata penunjuk "itu", maka akan menjadi mahasiswa itu bernostalgia; (b)
frasa tersebut mendapatkan sisipan predikat sedang, maka akan menjadi mahasiswa sedang bernostalgia.;
dan
(c) frasa tersebut
mendapatkan sisipan kata penunjuk itu dan predikat sedang, maka akan menjadi mahasiswa itu
sedang bernostalgia. Pada contoh (a), (b), dan (c) memiliki makna yang sama, yaitu ‘mahasiswa
sedang melakukan nostalgia’.
Nostalgia dalam konteks ini adalah ‘kenangan yang terjadi pada saat
peristiwa Reformasi,1998’. Ini merupakan
makna denotatif atau makna sesuai dengan KBBI V dan sejarah mencatat
peristiwa ini. Kemudian, pertanyaan
yang muncul adalah
siapa
yang melakukan nostalgia?
Dalam frasa tersebut, yang melakukan nostalgia adalah mahasiswa saat ini, dengan melakukan aksi demo akibat
penolakan atas sejumlah RUU. Ini merupakan analisis
makna kalimat
atau frase
dalam tataran Sintaksis. Jadi, dapat disimpulkan bahwa frasa tersebut merupakan kalimat aktif intransitif dengan beberapa syarat di atas, yang memiliki makna ‘mahasiswa saat
ini sedang bernostalgia dengan cara bertemu dalam aksi penolakan RUU terkait’.
Kemudian,
dilihat dari aspek konteks ujaran. Konteks ujaran frasa tersebut merupakan jawaban atas pertanyaan mengenai eskalasi demonstrasi mahasiswa. Moeldoko menjawab, “Ya, mungkin menurut mahasiswa nostalgia juga….” Mitra tutur, yaitu Moeldoko menjawab dengan mengucapkan fonem atau huruf /e/ cukup lama, yang jika dikaji dalam ilmu Pragmatik memiliki
dua makna, yaitu (a) ‘berusaha
menghindari pertanyaan tersebut’ dan (b) ‘terkesan memberi
pandangan bahwa tindakan itu biasa dan wajar’. Sedangkan, jika
berdasarkan pada aspek siapa dan di mana ujaran itu diucapkan, ujaran itu diucapkan oleh seorang Kepala Staf Kepresidenan
RI yang diucapkan di depan publik melalui siaran
langsung di televisi. Hal ini tentu
akan
berdampak luas, mengingat diucapkan oleh seorang petinggi negara secara langsung dan disaksikan oleh publik. Berbeda halnya jika ujaran tersebut diucapkan oleh masayarakat umum,
seperti penulis.
Jika
ujaran ini diucapkan oleh penulis
sebagai masyarakat umum di televisi swasta secara
langsung dan berada pada situasi yang sama, kemungkinan reaksi penonton akan mendukung
tindakan penulis
atau sebaliknya. Paradigma seperti inilah yang memunculkan perbedaan penafsiran makna suatu ujaran itu. Selain itu, menurut penulis, selain empat aspek tersebut, ada
beberapa faktor yang mempengaruhi penafsiran makna, yaitu faktor kepentingan dan faktor
substansi dari suatu ujaran.
Selain itu, ujaran frasa dipandang dari aspek kapan atau situasi apa yang sedang terjadi saat ujaran diucapkan. Ujaran frasa ini akan terkesan biasa saja saat diucapkan, baik oleh seorang petinggi negara maupun oleh masyarakat umum ketika tidak pada situasi ini. Hal ini berbanding terbalik dengan contoh sebelumnya, yang terjadi pada situasi ini. Dalam hal ini, ujaran yang
diucapkan oleh Kepala Staf Kepresidenan itu memiliki makna ‘mahasiswa
hanya sedang ingin berkumpul
dan mengenang perjuangan
Reformasi serta
bertemu kangen dengan mahasiswa lainnya se-Indonesia’. Maka dengan
berdasarkan simpulan-simpulan pada
aspek-aspek
yang telah dijelaskan di atas, penulis
memiliki simpulan baru mengenai makna yang tersirat dalam
frasa tersebut, yaitu (a) ‘mahasiswa hanya sedang ingin berkumpul dan mengenang perjuangan
Reformasi serta bertemu kangen
dengan mahasiswa
lainnya se-Indonesia’ sebagai manka denotasi dan (b) ‘aksi
yang dilakukan oleh
mahasiswa adalah
tindakan yang wajar dalam menyampaikan suatu pandangan’. Oleh karena itu, makna yang tersirat dalam frasa mahasiswa
bernostalgia tidak dapat serta merta diterjemahkan
secara “telanjang”, yang artinya makna akan
muncul sesuai dengan aspek siapa,
kapan,
di mana,
dan
apa
konteks
ujaran
tersebut
serta pengetahuan dari masing-masing mitra tutur.
Mantap, bagus sekali pemilihan diksi nya sehingga pembaca mudah mengerti. Di tunggu post selanjutnya:)
BalasHapus